Dalam beberapa dasawarsa terakhir, KH. Achmad Muzakki Syah (dipanggil kyai Muzakki) merupakan figur ulama, guru, mubaligh dan tokoh ikonik yang fenomenal di Indonesia, pola dakwahnya unik dan gerakan dzikir yang dipimpinnya terus berkembang pesat tidak saja dipelbagai kawasan bumi persada tanah air seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabotabek, Cirebon, Majalengka, Kalimantan, Sulawesi, Lampung, Irian Jaya, Maluku, Bali dan sebagainya, tetapi juga hingga Malaysia, Brunai Darussalam, India, Australia, Mesir dan Arab Saudi.
Ketika banyak rekannya dari kalangan ulama memilih. terjun ke dunia politik, menjadi dan bergaul bersama kelompok elite, beliau tetap istiqomah menjaga kaum alit. Bagi kyai yang dikuti tidak hanya sejuta umat ini, kalau semua meninggalkan kaum alit untuk memilih menjadi elite, lalu siapa yang akan mendampingi mereka, begitu juga kalau hanya orang baik yang diopeni, lalu orang jahat akan curhat ke siapa, padahal mesti ditunjukkan bahwa Allah itu at-tawwab dan al-ghaffar. Para pendosa itu bukan untuk dimusuhi dan dibasmi melain kan butuh dikasihi dengan pendekatan dakwah yang mawaddah warrahmah.
Kyai Muzakki beranggapan bahwa mengangkat seseorang dari lumpur dosa adalah lebih besar nilainya ketimbang membasmi dosa itu sendiri, karenanya, waktu diminta oleh banyak rekannya untuk berjuang bersama di dunia partai politik, dengan tegas beliau menjawab seperti perkataan nabi Yusuf as, dalam al-Qur'an: Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada ajakan mereka.
Ketika berceramah, banyak ulasan aktual beliau yang menyentuh dan menyayat relung batin yang tak jarang membuat pendengarnya tersedu, menjerit dan menyadari apa sebenarnya makna hidup ini. Fikiran-fikiran beliau amat tajam dan menukik, bukan saja karena membongkar mainstream yang oleh banyak orang diyakini benar tetapi juga "berani" mengungkap sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap tabu, fatwa-fatwanya kadang juga keras "menjewer" banyak pihak tetapi tentu dengan hajjah yang tak terbantahkan, bahasanya sederhana, mudah difahami, merakyat dan renyah, se-renyah tipologi orangnya.
Seiring dengan perubahan orientasi hidup, sebagian besar manusia akibat krisis psikologis, kegersangan spiritual dan problematika hidup yang terus meresahkan mereka, dzikir semakin menemukan momentumnya sebagai kebutuhan dasar (al-hajah al-asasiyah) masyarakat atau paling tidak sebagai ba- lance terhadap kecenderungan pola hidup serakah, materialistik dan hedonistik.
Sejumlah majelis dzikir, pengajian dan khotbah kolosal Kyai Muzakki yang digelar dipelbagai masjid, lapangan dan stadion selalu dibanjiri ribuan bahkan puluhan ribu umat dari berbagai kelas, daerah dan kalangan, salah satu rahasianya menurut beberapa jamaah dzikir adalah bahwa berdzikir bersama Kyai Muzakki terbukti efektif menenteramkan keresahan hati, menenangkan kegelisahan jiwa, menyelesaikan pelbagai problema, menyembuhkan pelbagai penyakit bahkan meloloskan banyak hajat dan permohonan.
Allah swt berfirman dalam al-Qur'an "Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenteram" (Qs. 13: 28). Rasulullah saw. bersabda "Keberuntungan yang diperoleh dari majelis dzikir adalah: surga atau kebahagiaan dunia akhirat (H.R Ahmad). "Sesungguhnya berdzikir kepada Allah adalah penyembuhan yang paling efektif (H.R. Baihaqi). "Tiada amal perbuatan anak adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah daripada dzikrullah (H.R Ahmad). "Sesungguhnya perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah bagaikan orang lari dari kejaran musuh sehingga ia sampai pada sebuah benteng dan ia berlindung di dalamnya untuk menyelamatkan dirinya" (H.R Ad-Dailamy).
Namun demikian, satu hal yang perlu dicatat bahwa tidak sedikit yang menempuh jalan dzikir tetapi hasilnya akan berbeda satu dengan lainnya, bacaan dzikir boleh sama, ia hanyalah sebaris huruf dan sebuah alat, tak ada daya dan kekuatan, siapapun bisa mengucapkannya, tetapi tingkat kualitas, keyakinan, keikhlasan, kekhusu'an, kedekatan dan getar aura kecintaan sang pengucap huruf, jauh lebih penting, ucapan sang pencinta, yang hatinya telah bening dan mantap selalu didengar Allah swt., ucapannya adalah kenyataan, kehendaknya adalah wujud nyata, kapan saja.
Menurut Habib Muhammad bin Ali al-Habsy, KH Ach. Muzakki Syah adalah model tokoh yang telah "jadi", tokoh yang yang istiqomah mewakafkan seluruh hidupnya hanya untuk umat, keistiqomahannya ditandai oleh kekokohan beliau tidak pernah tergiur oleh pesona politik, gemerlap lampu sorot publik atau apapun yang selain Allah.
Prinsip beliau kokoh bak karang di tengah gelombang, sikapnya fleksibel bak ilalang yang tidak patah oleh beban dadakan seberat apapun, fikirannya bening sebening senyumnya, dadanya "nyegarah" dan terbuka untuk siapa saja, hatinya selalu damai sedamai wajahnya, siapapun yang melihatnya pasti ikut merasa damai, ibarat sebuah cermin, beliau adalah tempat kita mengaca diri dan ibarat samudera, beliau tak bertepi, siapa saja dan dari mana saja orang boleh mencicipi airnya, berlayar di atasnya, menyelami kedalamannya, menikmati keindahannya bahkan mengambil pelbagai kekayaan yang dikandungnya, samudera hanya memberi dan tidak pernah me minta.
Ditulis oleh: Oleh: Ach. Hefni Zein & Moch. Holili